MINYAK CENGKEH SEBAGAI ASSET PENGEMBANGAN KOMUNITAS DI DESA WAELIKUT – KABUPATEN BURU SELATAN

Authors

  • Eko Basuki Universitas Kristen Indonesia Maluku, Indonesia
  • Josephus Noya Universitas Kristen Indonesia Maluku, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.69765/mjppm.v4i1.1015

Keywords:

minyak cengkeh, aset masyarakat, ommunity development

Abstract

Hasil pengkajian dengan menggunakan metode Asset Based Community Development (ABCD) yang dilakukan di masyarakat Desa Waelikut Kabupaten Buru Selatan - Indonesia menunjukkan bahwa produksi minyak cengkeh merupakan aset masyarakat yang berpotensi untuk dikembangkan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. ekonomi. Produksi minyak cengkeh sebenarnya membutuhkan banyak tenaga kerja, terutama dalam proses pengumpulan daun cengkeh kering. Daun cengkeh yang sudah rontok dan sudah kering dapat dengan mudah kita temukan di Desa Waelikut – Kabupaten Buru Selatan, karena pada umumnya penduduk memiliki pohon cengkih yang tersebar di seluruh desa. Kelemahan produksi minyak cengkeh masyarakat Desa Waeliikut adalah pada kegiatan promosi dan pengemasan produk yang masih tradisional sehingga dari segi pemasaran kurang menarik. Tim pengabdian masyarakat Universitas Kristen Indonesia Maluku kemudian melakukan pelatihan manajemen pemasaran produksi minyak cengkeh kepada masyarakat Desa Waelikut, yang bertujuan agar produksi minyak cengkeh Desa Waelikut memiliki jaringan pemasaran yang luas. Tim pengabdian masyarakat Universitas Kristen Indonesia Maluku bersama masyarakat Desa Waelikut berhasil memutakhirkan kemasan produk minyak cengkih, sehingga produk minyak cengkih masyarakat Desa Waelikut memiliki daya tarik tersendiri dan mudah dikenal di pasaran. Produk minyak cengkih dari Desa Waelikut kemudian dihubungkan dengan Pemkab Buru Selatan untuk membantu mempromosikan produknya dengan harapan produk minyak cengkeh ini dapat menembus pasar di dalam dan luar Kabupaten Buru Selatan.

References

Bruursema, C.S. (2015). Asset Based Community Development: A Path toward Authentic Community Development Practice. SPNHA Review: Vol. 11: Iss. 1, Article 7.

Bull, T., Mittelmark, M.B., and Kenyaka, N.E. (2013). Assets for well-being for woman living in deep poverty: Through a salutogenic looking-glass. Critical Public Health, 23, 160-173, doi: 10,1080/09581596.2013,771811.

Cunningham, G., and Mathie, A. (2002). Asset Based Community

Development: An Overview. Coady International Institute. Retrieved February, 4, 2009.

Kretzmann, J.P., and McKnight, J. (1993). Building Communities from the Inside Out. Center for Urban Affairs and Policy Research, Neighborhood Innovations Network.

Kretzmann, J.P., and McKnight, J. (1996). Asset Based Community

Development. National Civic Review, 85(4), 23-29.

Marmot, M. (2010). Fair Society, Healthy Lives: Strategic Review of Health Inequalities in England Post 2010.

Panduan Pengabdian Kepada Masyarakat Tahun 2022, Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Kristen Indonesia Maluku.

The World Bank. (1996). The World Bank Participation Sourcebook,

Washington D.C., The World Bank, Retrieved from:

www.ds.worldbank.org/external/default/WDSContentServer/WDSP/IB1996/02/01/000

09265_3961214175537/Rendered/PDF/multi_page.pdf

Downloads

Published

2023-05-12

How to Cite

Basuki, E., & Noya, J. (2023). MINYAK CENGKEH SEBAGAI ASSET PENGEMBANGAN KOMUNITAS DI DESA WAELIKUT – KABUPATEN BURU SELATAN. MAREN: Jurnal Pengabdian Dan Pemberdayaan Masyarakat, 4(1), 49–60. https://doi.org/10.69765/mjppm.v4i1.1015

Issue

Section

Articles

Citation Check