PROSPEK USAHA PENGELOLAAN SAGU TRADISIONAL MASYARAKAT PAPUA GUNA MENINGKATKAN PENDAPATAN TARAF HIDUP PADA KAMPUNG CENGKEH KELURAHAN KLAWASI DISTRIK SORONG BARAT, KOTA SORONG

Roberthair Suripatty, Berti Pakaila, Jordan Tiblola

Abstract


Sagu adalah tanaman asli bangsa Indonesia yang merupakan sumber pangan yang paling tua bagi masyarakat Maluku dan Papua karena itu sagu mempunyai arti khusus sebagai pangan tradisional bagi penduduk di Indonesia bagian timur. Permasalahan untuk orang Papua pengambilan sagu yang sangat jauh karena letak hutan sagu dari tempat pemukinan masyarakat 20 sampai dengan 30 Km dengan jalan setapak yang penuh dengan lumpur, becek dan melewati beberapa perbukitan serta sungai sehingga waktu yang ditempuh hampir 5 sampai 8 jam perjalaan kaki sebab tidak ada akses jalan raya ke lokasi yaitu hutan sagu, tempat untuk menokok sagu masih memakai alat tradisional yang sederhana disekitar areal penebangan sagu sehingga proses hasil yang didapatkan tidak maksimal atau hasil sagu yang di saring tidak bersih dan hasil akhir dari sagu yang didapatkan sedikit karena banyak yang terbuang dan masih kotor, Terbatasnya jumlah modal merupakan kendala utama dalam pengembangan usaha masyarakat dikampung cengkeh yang prospek pencarian hidupnya tergantung pada sagu dan alam, sumber daya manusia (SDM) yang sangat terbatas dan sebagian besar masyarakat tumbuh secara tradisional dan merupakan usaha keluarga yang turun temurun, sarana dan prasaranan untuk pengelolaan sagu menjadi berbagai jenis makanan masih sangat sederhana menggunakan alat seadanya untuk mengorek sagu dari pohon sagu. Sagu diolah oleh orang Papua untuk dijual ke pasar bahkan untuk dikonsumsi dalam keluarga. Selama ini solusi bantuan pemerintah belum terjangkau oleh orang Papua khususnya Kampung Cengkeh Kelurahaan Klawasi Distrik Sorong Barat Kota Sorong.Untuk lokasi permanen menokok sagu masih dikatakan sangat sederhana perlu dibutuhkan teknologi yang baik dalam melakukan pengelolaan sagu, Lemahnya jaringan usaha dan kemampuan penetrasi pasar usaha kecil untuk orang Papua masih belum dirasakan hal ini sangat berpengaruh pada pendapatan taraf hidup mitra.


Keywords


Sumber Daya Manusia (SDM); Sumber Pangan; Penetrasi Pasar Usaha; Pengelolaan Sagu; Usaha Keluarga.

Full Text:

PDF

References


Harayanto, B dan Pjilipus Pangloli, 1992. Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Kanisius Bogor.

Sosolowati, N. 2008. Tanaman Sagu Sebagai Sumber Energi Alternatif. Dikutip dari Http:///balarmedan.wordpres.com/peralatan-tradisionalpengelolaan-sagu-dipulau-siberut -rupat.

Akuba RH, Mahmud Z, Karmawati, Lolong AA, Lay A, Editor, Sagu untuk Ketahanan pangan

Alfon JB, Busta S. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan Sagu Di Maluku. Maluku : Balai Pengakajian Teknologi Pertanian Maluku. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Asben A, Irawati TT, Syamsu K dan Haska N. 2012

Bintoro Dkk 2010, Sagu dari Genus Metroxylon Dapat Digolongkan Dalam Dua Golongan Besar Yaitu Sagu Berbunga dan Berbuah.

Sykir dan Karmawati, 2013. Dari Sagu Morfologi Sagu tumbuh dalam bentuk rumpun.

Kotler, Philip. 2010. Manajemen Pemasaran. Edisi tiga belas Bahasa Indonesia.Jilid 1 dan 2.Jakarta : Erlangga

Griffin, Jil. 2005. Customer Loyalty “Menumbuhkan dan Mempertahankan Kesetiaan Pelanggan”. Erlangga: Jakarta.

Sarlotha Yulliana Purimahua, Junus Kwelju, Maya Laisila, Orpa L Rumtily, Thomas Aurima, 2020, Usaha Mikro dan Cara Mengatur Usaha Masyarakat di Negeri Hatu, Maluku Tengah, Jurnal Abdimas Bina Bangsa, Vol.1 No.1, p.107-118.

Kuncoro, Mudrajad. 2009. Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi. Edisi 3. Erlangga: Jakarta

Tjiptono, Fandy. 2005. Strategi Pemasaran. Edisi 3. Andi: Yogyakarta


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Roberthair Suripatty, Berti Pakaila, Jordan Tiblola

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

 
 

View My Stats

Lisensi Creative Commons
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.