Sikap Etis terhadap Berkat Tuhan di Meja Makan

Penulis

  • Bernhard Marantika GPM

DOI:

https://doi.org/10.37429/marinyo.v2i2.1793

Kata Kunci:

tata krama di meja makan, sikap etis, teologi etika

Abstrak

Abstract

The purpose of this article is to examine and develop ethical attitudes (manners) that should be demonstrated when facing God's blessings at the dinner table, particularly in the context of the Congregation of GPM Menara Kasih. The method used is qualitative research, centered on the church member's perspective with data collection techniques, namely: observation and interviews to obtain primary data. The results show that the dinner table is seen not only as a place to enjoy food (God's blessings), but also as a place for spiritual development, kinship, and education (advice). The attitude of not appreciating God's blessings is seen in behaviors such as eating while undressed, lifting the feet, or eating outside the dining table even though it has been provided. This study concludes that the attitude of appreciating God's blessings at the dinner table is manifested through good manners (dress and attitude), not lifting the feet, and the obligation to eat at the dining table. Unethical actions are considered not to reflect the face of God and show disrespect for others.

 

Abstrak

Tujuan dari artikel ini adalah mengkaji dan mengembangkan sikap etis (tata krama) yang seharusnya ditunjukkan ketika menghadapi berkat Tuhan di meja makan, khususnya dalam konteks Jemaat GPM Menara Kasih. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang berpusat pada pandangan umat dengan teknik pengumpulan data yakni observasi dan wawancara untuk mendapatkan data primer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meja makan dipandang bukan hanya sebagai tempat menikmati makanan (berkat Tuhan), tetapi juga sebagai wadah pembinaan spiritual, kekeluargaan, dan pendidikan (nasihat). Sikap kurang menghargai berkat Tuhan terlihat dari perilaku, seperti: makan sambil membuka baju, mengangkat kaki atau tidak makan di meja makan padahal makanan sudah disediakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sikap menghargai berkat Tuhan di meja makan diwujudkan melalui sopan santun (tata busana dan sikap), tidak mengangkat kaki, dan wajib makan di meja makan. Tindakan yang tidak etis dianggap tidak mencerminkan wajah Allah dan tidak menghargai sesama.

Referensi

A., E. “Interview,” 2022.

Bertens, K. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993.

Brownlee, Malcom. Pengambilan Keputusan Etis Dan Faktor-Faktor Di Dalamnya. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.

Dandirwalu, Resa. Buku Ajar Pengantar Antropologi Budaya. Mimika Baru, Aseni, 2016.

H., N. “Interview,” 2022.

Kamus Bahasa Indonesia/Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

Loupatty, Tenli R. “Meja Makan Dan Media Pendidikan Hidup Orang Basudara: Suatu Tinjauan Sosial Budaya.” Http://Kebudayaan.Kemdikbud.Go.Id/Bnpbmaluku/Meja-Makan-Dan-Tampa-Garam-Sebagai-Media-Pendidikan-Hidup-Orang-Basudara-Suatu-Tinjauan-Sosial Budaya/#:~:Text=Dalam%20tempatuntuk%20membangun%20 Semangat.

Maspaitella, Elifas Tomix. “Meja Makang Kasiang: Ritus Keluarga Dan Komunitas Di Maluku.” Http://Kutikata.Blogspot.Com/2019/10/Meja-Makang-Kasiang.Html?M=1.

P., A. “Interview,” 2022.

Souisa, Nancy Novitra. “Makan Patita: Nilai Dan Maknanya Dalam Membangun Pendidikan Kristiani Yang Kontekstual.” Universitas Kristen Satya Wacana, 2017.

Diterbitkan

2026-01-18

Terbitan

Bagian

Articles